Kamis, 21 April 2011

Kampung di negriku


Nilai-nilai kebersamaan, persaudaraan, dan kegotong-royongan antar warga yang menjadi indentitas bangsa benarkah kini dianggap meluntur? Tentu menjadi idaman setiap orang jika dapat tinggal disuatu daerah yang tenang dan aman. Mempunyai warga yang saling peduli atau memiliki tetangga yang ringan tangan membantu sesama tetangga yang lain pasti sangat menyenangkan. Konon ada penelitian yang menyatakan bahwa daerah dengan warga yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi, dianggap dapat mencapai kemakmuran dan kemajuan dengan lebih cepat, lebih mudah dan lebih lancar. Sebab segala masalah yang terjadi dikerjakan dengan bersama-sama maka akan lebih cepat selesai. Kesulitan yang ada menjadi lebih mudah terpecahkan karena dipikirkan oleh orang banyak. Lebih lancar, karena semua hal diketahui warga secara bersama-sama sehingga lebih sedikit yang menolak. Dengan sedikit yang menolak artinya lebih sedikit hambatan dan menjadi lebih lancar dalam mencapai tujuan.

ini membuktikan bahwa masih ada kepedulian antar warga juga kebijakan-kebijakan pemimpin daerah yang didukung warganya karena memberi manfaat dan nilai kebaikan yang patut ditiru bagi daerah lain. Misalnya saja di Sulawesi Selatan, ada Desa bonebone, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, yang sangat peduli pada lingkungan dan kesehatan. Ide kepala desanya, Muhammad Idris dengan didukung warga sepenuhnya, menyatakan bahwa aktifitas merokok adalah hal tabu yang tidak boleh dilakukan siapapun di desa tersebut. Di ujung barat Indonesia, ada Desa Suak Nie, Aceh Barat. desa yang saat tsunami tahun 2004 telah kehilangan setengah jumlah warganya ini, beberapa waktu yang lalu mendeklarasikan sebagai “gampong partisipatif anak”. Dibantu oleh Yayasan KKSP Pusat Pendidikan dan Informasi Hak Anak, dalam setiap kebijakan desa yang berkaitan dengan kepentingan anak akan melibatkan anak, seperti jam belajar dan waktu bermain anak yang diterapkan dan disepakati oleh desa. Termasuk juga sosialisasi sejak dini hukum syariah di Aceh.

Di Jakarta Timur, ada seorang kepala desa juga menerapkan satu kebijakan yang tidak biasa pada warganya selang seminggu sejak ia di lantik sebagai lurah. Semestinya semua orang yang mengaku warga negera hafal dengan lagu kebangsaannya, Indonesia Raya. Keprihatinan pada hal inilah yang mendorong Yus Wil Rasid, membuat edaran bagi warganya tentang kewajiban menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai syarat mendapatkan pelayanan dari kelurahan. Yus Wil yakin dengan menerapkan kebijakan ini, ada nilai-nilai nasionalisme yang perlu lebih dipahami dan diamalkan oleh masyarakat Indonesia.

Sebutan Gang “Seribu Punten” memang ditujukan pada wilayah RT 04/RW 01, Kampung Babakan Asih, Kota Bandung ini. Orang dari luar kampung harus rajin-rajin bilang punten (permisi) ketika melintas di gang kampung tersebut, jika mereka ingin lewat atau keluar kampung tersebut dalam keadaan selamat. Bagaimana kampung yang dulu dikenal sebagai kampung preman kemudian berubah menjadi kampung yang santun? Reggi Kayon Munggaran, yang saat itu menjadi aktivis LBH dan LSM di Bandung datang ke Kampung Babakan Asih merasa terpanggil untuk membantu menyelesaikan persoalan kampung ini. Dibantu oleh Pak RT, Ahmad Ruyani, keduanya melakukan pendekatan pada warga kampung membangun solidaritas hampir 7 tahun. Upaya pendekatan yang seprertinya terlihat sepele karena melalui nongkrong, ngobrol, dan ngumpul bareng, ternyata membuahkan hasil. Kini para pemuda dan warganya bersama-sama membangun kampung tersebut.

terimakasih untuk aktor aktor yang sudah berkerja keras untuk membangun semua ini.

Tidak ada komentar: